Makanan yang tidak pernah ketinggalan saya cari di Jogja adalah Lotek, bukan “low tech”
Seperti apa sih Lotek… hmmm.. gimana ya nggambarinnya.. mungkin seperti pecel, gado-gado, karedok, dsb.. tapi ini beda.. bumbunya kacang tanah digoreng kemudian diuleg.. dengan bawang putih, kencur, daun jeruk purut, trasi, garam, dan lombok rawit (buat yang suka pedes).. ditambah gula jawa dan air asem (rendaman asem jawa) tambah air sedikit.. lalu ditaburi sayuran seperti bayam, kacang panjang, kangkung, yang direbus dulu.. lalu irisan kubis mentah, tomat, timun.. tambah irisan tahu bacem buat yang suka… dan daun sledri.. kupat dan krupuk… hmmm.. maknyusss….


Kali ini saya mampir di warung Lotek “Bu Bagyo” yang ada di Jl. Moses Gatutkaca di daerah Colombo – Gejayan.. disamping yang saya tulis di atas.. disini ditambah dengan irisan bakwan goreng (yang dimaksud bukan bakwan jawa timur loh.. mungkin kalau di jawa timur nyebutnya “ote-ote” yach… ) Duh.. jadi laper deh…
Wedang Uwuh, Wedang “Sampah” Khas Imogiri
“Uwuh” dalam bahasa Jawa bermakna “sampah”. Sampah yang dimaksud adalah sampah dedaunan organik.Namun di Imogiri, Wedang Uwuh justru menjadi minuman khas. Meski bernama “uwuh”, namun minuman justru menyegarkan dan menyehatkan.
Kok bisa?
Makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta yang sering disebut dengan Pajimatan Imogiri ini rupanya mempunyai tradisi kuliner yang unik. Salah satunya adalah Wedang Uwuh.
Disebut demikian memang karena penampilan minuman ini mirip-mirip “uwuh” atau “sampah dedaunan”.
Terang saja, di dalam gelas, terdapat berbagai macam rempah dan dedaunan, antara lain potongan jahe gepuk yang dibakar, serutan kayu manis, serutan kayu cengkeh, daun cengkeh, daun pala, secang, dan gula batu yang diseduh dengan air mendidih.
Warna air yang merah cerah terbentuk dari air seduhan secang. Bau harum muncul dari aroma kayu manis. Rasa hangat-pedas terbentuk dari jahe dan dedaunan rempah lainnya.
Akibat racikan berbagai rempah inilah, wedang yang sering juga disebut dengan Wedang Jahe Cengkeh ini dipercaya berkhasiat dan mampu menjaga kesehatan badan.
Waktu yang pas untuk menikmati wedang ini tentu saja ketika cuaca dingin. Bisa juga menikmati wedang ini setelah lelah berolah raga di seputaran Pajimatan Imogiri.
Ya, suasana Pajimatan Imogiri di Minggu pagi memang ndak jauh beda dengan Bunderan UGM yang selalu ramai dengan orang-orang yang hendak berolah raga atau sekedar berwisata bersama keluarga.
Lebih nikmat lagi bila menikmati wedang ini ditemani dengan Pecel Kembang Turi, yang banyak juga dijual di tempat ini. Hm..
Uniknya lagi, semua bahan pembuat wedang ini tersedia di kawasan ini. Pohon Pala, pohon Cengkeh, pohon Secang, Kayu Manis semua ada di kawasan berbukit yang rindang ini.Berkunjung ke Makam Imogiri tentu menjadi kurang lengkap bila belum mencoba Wedang Uwuh.
Geblek Kulon Progo
Kabupaten Kulonprogo tidak hanya Tempe Benguk tetapi juga memiliki makanan khas lainnya yakni Geblek. Makanan Geblek ini pun menjadi salah satu identitas lokal Kabupaten Kulonprogo, seperti halnya gudeg bagi Yogyakarta. Geblek merupakan salah satu jenis makanan yang dibuat dengan bahan baku berupa tepung kanji atau tepung tapioka, hanya saja tepung tapioka yang digunakan adalah tepung tapioka basah. Tapioka basah ini didatangkan ke pembuat geblek dalam adonan yang sudah basah yang bisa dipotong-potong dan disesuaikan ukurannya.
Lazimnya, geblek dibuat dengan menggunakan tepung tapioka basah, selain harganya yang jauh lebih murah, warnanya pun bisa lebih putih. Sedangkan geblek yang dibuat dari tepung tapioka kering, selain harganya yang mahal, geblek yang dibuat pun akan berwarna keabu-abuan atau kebiruan.
Untuk membuat geblek yang enak, pertama-tama tepung tapioka basah dikukus - tidak sampai matang – dan setelah itu tepung tapioka yang memadat itu diplintir dan digilas sambil dibumbui garam. Kemudian adonan yang berbumbu garam tadi kembali dikukus selama kurang lebih 10 menit. Setelah dikukus, adonan tadi kemudian ditiriskan sebentar untuk kemudian dibumbui dengan bawang putih yang sudah dihaluskan. Adonan setengah matang ini untuk selanjutnya dibentuk bulat-bulat dan digandengkan masing-masing terdiri atas dua bulatan sehingga membentuk huruf 8. Adonan inilah yang siap digoreng dan disajikan.
Masyarakat yang datang maupun pergi dari Kulonprogo, biasanya menginginkan untuk membawa oleh-oleh berupa geblek, itupun dibawa dalam wujud masih mentah belum digoreng. Sebab jika membawa geblek yang sudah digoreng, maka lebih dari 8 jam geblek akan terasa keras bila digigit dan sudah tidak enak lagi rasanya.
Penyebutan geblek ini sendiri harus dicermati karena huruf “e” pertama dibaca seperti “e” pada membaca, sedangkan huruf “e” kedua dibaca seperti “e” pada ember.
B. Keistimewaan
Geblek mentah memiliki keistimewaan yakni dapat bertahan selama 4 hari tanpa pengawet. Jika melebihi 4 hari, maka geblek yang siap digoreng ini akan mengeras dan tidak enak, dan bila digoreng pun rasanya sudah tidak gurih lagi. Sementara geblek yang sudah digoreng atau sudah matang, biasanya hanya mampu bertahan selama 1 hari. Jika lebih dari satu jam, geblek biasanya akan terasa keras.
Geblek harus disantap dalam keadaan hangat. Artinya, begitu selesai digoreng sebaiknya segera disantap, karena dalam kondisi hangat atau sehabis digoreng, geblek akan terasa garing di bagian luar namun lembek dan sedikit kenyal di bagian dalam. Geblek yang baik adalah geblek yang tidak keras sehabis digoreng. Selain itu, geblek yang baik apabila digoreng akan terasa sedikit berongga di bagian dalamnya sehingga lebih memberikan kesan lunak atau empuk. Selain itu geblek yang baik juga berwarna putih sekalipun tanpa pewarna.
Jika Anda merasa kurang sreg dalam menyantap geblek saja, Anda bisa menyantapnya bersama besengek tempe benguk yang juga menjadi salah satu makanan khas Kabupaten Kulon Progo. Kedua makanan ini sangat pas jika disantap dalam kondisi hangat dengan ditemani secangkir teh hangat. Perpaduan ketiganya menimbulkan sensasi rasa di mulut yang cukup menggoda. Penasaran dengan kenikmatan rasa geblek ? Datang saja ke Kulon Progo.
C. Lokasi
Dusun Bejaten, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo atau bisa ditemui di pasar-pasar tradisional di Kulonprogo, seperti Pasar Wates. Untuk geblek yang sudah digoreng, sangat mudah ditemui di Pasar Wates tepatnya di lantai 2.
D. Harga
Harga geblek yang sudah matang yang dijual di pasaran relatif murah yakni Rp. 2.000,00 per bungkus (tahun 2010). Harga murah ini tentunya sangat terjangkau apalagi rasanya cukup gurih. Penasaran ? Saatnya berburu geblek.
sumber:Geblek, Makanan Khas Orang Kulon Progo



Tidak ada komentar:
Posting Komentar